Euforia, Social Media yang (Tidak) Bermanfaat

Era web 2.0 membawa kita ke pergaulan dunia maya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berbagi video dengan YouTube, berbagi photo dengan Flickr, menjadi citizen journalist lewat blog, e-narcism via Facebook, berbagi opini lewat Twitter, berbagi ilmu lewat slide presentasi menggunakan Slideshare sampai “memberitahukan” kita lagi ada dimana menggunakan Koprol atau Foursquare, sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi para pengguna internet saat ini. Pertanyaannya, apa manfaat itu semua?Facebook (FB) menjadi media jejaring sosial paling populer di Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan pengguna Facebook terbesar ketiga didunia dengan jumlah pengguna saat ini mencapai lebih dari 25juta orang (sumber: facebakers.com). Di beberapa penjual handphone di Jakarta, saya pernah melihat tulisan ‘Gratis Facebook’ sebagai salah satu gimmick dalam promosi mereka (Emang sejak kapan Facebook berbayar?). Bahkan, saya mendengar di salah satu warnet di Papua terdapat layanan “Pendaftaran Akun Facebook: Rp. 50.000” Facebook merupakan suatu ‘media baru’ untuk menunjukkan eksistensi diri. Gak punya FB, gak eksis.

Padahal FB dapat menjadi alat yang sangat powerful untuk meningkatkan “nilai” hidup kita. Contoh: Mas Haryadi, seorang tukang becak di Kota Jogja, yang aktif menggunakan FB dapat menjaring pelanggan dari akun FB miliknya. Wisatawan mancanegara bisa “booked” mas Hary ini sebelum datang ke Jogja. Dengan akun FB-nya dia bisa meningkatkan pendapatan keluarganya. Ada lagi seorang ibu rumah tangga yang menjajakan Batik Khas Jawa Barat. Foto, deskripsi produk & harga dia pajang di akun FB miliknya, dan tanpa melakukan spam, dia pun berhasil menjajakan dagangannya dengan cepat. Alternatif solusi bagi para ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan. Masih banyak lagi yang memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk mendapatkan “nilai lebih” dibanding sekedar pengen eksis.Ada satu lagi ‘tool’ social media yang saat ini cukup banyak digandrungi yaitu TWITTER. Media micro-blogging ini digunakan oleh orang-orang untuk “berkicau” tentang apapun yang “kicauannya” dapat “didengar” (dibaca-red) oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya (followers). Uniknya di Twitter kita dibatasi untuk menulis maksimal 140 karakter saja. Banyak orang yang menggunakan Twitter ini hanya sekedar untuk berkomunikasi dengan teman-temannya atau sekedar “berkicau” seadanya. Tapi untung di Twitter kita punya orang-orang yang mau berbagi ilmunya.

Ada beberapa orang yang kicauannya di Twitter luar biasa. Sebut saja Bapak Goenawan Mohammad (@gm_gm), seorang sastrawan terkemuka. Beliau banyak menuangkan pikirannya di Twitter sehingga seolah-olah kita menjadi murid langsung dari tokoh bangsa ini. Ada lagi Bang Poltak Hotradero (@hotradero), saya menyebutnya ensiklopedi berjalan. Bagaimana tidak, tulisan-tulisannya di Twitter banyak berisi pengetahuan umum yang disajikan dengan runtun. Mulai dari cerita tentang sejarah kopi, cabai, semut dan cara mengatasinya, dysleksia, sejarah Coco Channel, sampai ilmu yang memang menjadi bidangnya yaitu ekonomi. Kalau baca twit-nya saya sering berpikir, “Ini orang otaknya kapasitas memorynya berapa ya?”.

Masih banyak lagi “tokoh-tokoh” Twitter yang layak untuk diikuti kicauannya seperti Panji Pragiwaksono (@pandji) yang terus menyuarakan kebanggaannya atas Indonesia, Ahmad Gozali (@ahmadgozali) yang membuka wawasan kita tentang keuangan Syariah, Subiakto (@subiakto) tokoh periklanan Indonesia yang banyak memberi ilmu all about advertising, Safir Senduk (@safirsenduk) financial planner yang sering mengingatkan kita tentang perlunya perencanaan keuangan yang baik, dan masih banyak lagi. Media-media mainstream pun tak mau ketinggalan untuk memberikan berita terbarunya lewat Twitter, sebut saja @detikcom, @kompasdotcm, @metro_tv, @korantempo, @liputan6dotcom, @tvonenews, @rctitv dan lain-lain.

Bisa kita bayangkan banyaknya konten positif yang bisa kita dapatkan dengan mengikuti tokoh-tokoh tersebut di atas. Terkadang dibuat twit berseri atau lebih dikenal dengan Kul-Twit (Kuliah Twitter) membuat kita merasa menjadi murid dengan banyak guru secara gratis.

Akhir tahun 2009 pengguna twitter di Indonesia mencapai 2,41% dari total pengguna dan menempati posisi keenam dunia (sumber: sysomos.com). Pengguna twitter di Indonesia pun mempunyai pengaruh yang besar dalam menciptakan Trending Topics di jagat Twitter. Beberapa topik yang hangat di Indonesia dapat segera menjadi trending topic. Sebut saja wafatnya mbah Surip, menjadikan tag #mbahsurip menjadi trending topic saat itu. Kasus video porno artis menjadikan tag #ariel-peterporn menjadi trending topic selama berhari-hari di jagad twitter. Dan yang paling terakhir adalah munculnya #keongracun yang berasal dari beredarnya video 2 ABG yang menyanyikan secara lyp-sinc dengan kocak lagu dangdut berjudul Keong Racun.

Acara Provocative Proactive yang tayang perdana di Metro TV tanggal 5 Agustus kemarin berhasil memanfaatkan Twitter sebagai media promosi dan mengangkat citra dari program tersebut. Dengan para host (@pandji, @radityadika, @jflowrighthere dan @RockNal) yang memang “aktivis” twitter, acara ini sudah berhasil memancing rasa penasaran. Bahkan pada saat acara berlangsung @ProvocActive berhasil menjadi trending topics. Nah, dengan kekuatan pengguna Twitter Indonesia menciptakan Trending Topics, bukankah seharusnya mudah menggunakan Twitter untuk mengangkat citra Indonesia?

Jadi, apakah kata dalam kurung pada judul di atas bisa dihilangkan? Itu kembali pada kita semua para pengguna jejaring sosial untuk memutuskannya. Kalau kita mengenal pepatah “Mulutmu Harimaumu”, kini pepatah itu sudah berubah menjadi “Statusmu Harimaumu” dan “Kicauanmu Harimaumu”